Home » , » Kegiatan manajemen pelatihan

Kegiatan manajemen pelatihan

Written By Unknown on Rabu, 30 Januari 2013 | 15.15


Kegiatan-kegiatan dalam manajemen pelatihan meliputi:
1. Menetapkan sasaran,
2. Perencanaan/Mendesain Program pelatihan,
3. Pelaksanaan,
4. Pengecekan/Pengawasan dan pengendalian,
5. Pengembangan pendidikan dan pelatihan

A. MENETAPKAN SASARAN

Yang dimaksud dengan sasaran pelatihan yaitu: membentuk, meningkatkan dan mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku, serta keterampilan, agar dapat mencapai standar tertentu yang diinginkan.
Setelah menetapkan sasaran, kegiatan berikutnya adalah membuat perencanaan atau mendesain/merancangbangun program pelatihan.

B. PERENCANAAN/MENDESAIN PROGRAM PELATIHAN

Perencanaan adalah menentukan kebutuhan latihan berikut rekomendasinya. Menyusun pola dan program latihan sesuai rekomendasi  berikut metode dan sarana latihan.
Mendesain program pelatihan merupakan kegiatan awal dari persiapan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan/diklat yang sangat penting. Di samping mempunyai tujuan menghasilkan program yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan peserta dan organisasinya, juga dapat menetapkan strategi diklat (menentukan perlu diklat atau pendidikan di luar diklat). Seorang desainer pembelajaran diklat pertama-tama ia harus menggali model-model pembelajaran yang ada, pemakaian model pada desain program pembelajaran sangat bermanfaat dalam menghasilkan program yang berkualitas dan realistis.
Manfaat menggunakan model adalah:
1.Menjelaskan hubungan aspek perilaku manusia dan interaksinya.
2.Mengintegrasikan apa yang diketahui melalui riset dan observasi.
3.Menyederhanakan proses kemanusiaan yang kompleks.
4.Petunjuk observasi.

Desain (rancangbangun) adalah proses perencanaan yang menggambar-kan urutan kegiatan (sistematika) mengenai suatu program. Ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan:
1. maksud (apa yang harus dicapai);
2. metode (bagaimana mencapai tujuan);
3. format (dalam keadaan bagaimana penentuan rancangbangun yang Anda ingin capai).

Pertanyaan mendasar tentang setiap rancangbangun pelatihan:
1.Apakah orang/kelompok yang membuat rancangbangun dapat mencapai tujuan kegiatannya?
2.Tingkat pengetahuan dan keterampilan apa yang disyaratkan  bagi  peserta?
3.Berapa waktu yang diperlukan?
4.Apakah perencanaan ini sesuai untuk ukuran kelompok?
5.Keterampilan apa yang disyaratkan untuk melaksanakan perencanaan?

Beberapa hal yang harus diperhatikan selain tujuan, metode, dan format yaitu:
1.Alokasi waktu, berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan rancangbangun?
2.Apa yang akan dilakukan agar peserta terlibat dan berpartisipasi?
3.Pokok/kunci dan atau instruksi, ide apa yang disajikan, dan apa yang sebenarnya diinginkan dari partisipasi peserta?
4.Materi/bahan apa yang dibutuhkan, atau apa kebutuhan peserta?
5.Pengaturan (bagaimana mengetahui lingkungan fisik agar rancang-bangun bisa berhasil)?
6.Penilaian apa yang harus dibuat, alat atau diskusi apa yang diinginkan oleh peserta sebelum melanjutkan ke kegiatan berikutnya?

Tujuan rancangbangun
Adapun tujuan rancangbangun/perencanaan pelatihan adalah:
1.Mengetahui secara sistematis tahapan kegiatan pelatihan yang akan dilaksanakan.
2.Mengetahui aspek-aspek atau unsur-unsur pelatihan yang menjadi fokus.
3.Mengetahui model yang digunakan.
4.Menyiapkan bahan-bahan dan metode yang digunakan.

Manfaat rancangbangun
1.Merupakan pedoman/acuan dalam pelaksanaan pelatihan.
2.Menyiapkan bahan-bahan dan metode yang digunakan.

Prinsip rancangbangun
1.Menetapkan pendekatan yang digunakan.
2.Menetapkan model yang digunakan.
3.Menetapkan langkah-langkah dan unsur-unsur pelatihan.

Beberapa model rancangbangun
1.Model Pusdiklat Depdiknas.
2.Model Leonard Nadler (Critical Events).
3.Model Steppes Depdiknas.
4.Model ELC.
5.Model Pendekatan Pembelajaran Integratif.
Berdasarkan hasil diskusi atau penggalian informasi melalui pelaksanaan PRA atau wawancara dapat diketahui adanya kebutuhan pelatihan atau pelatihan yang diinginkan oleh kelompok masyarakat tadi. Jika ada beberapa usulan jenis pelatihan sedangkan dana untuk itu terbatas, maka perlu dilakukan pemilihan jenis pelatihan yang menjadi prioritas untuk dilaksanakan.

Pemilihan jenis pelatihan dilakukan melalui suatu diskusi dengan masyakat yang bersangkutan dalam suatu pertemuan khusus. Juga disesuaikan dengan ketersediaan dana.

Secara garis besar jenis pelatihan dapat digolongkan ke dalam 2 kelompok yakni :

1.Pelatihan teknis yakni pelatihan yang  bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang usaha kehutanan. Contoh-contoh pelatihan yang termasuk kategori ini antara lain :
a.Pelatihan budidaya lebah madu.
b.Pelatihan budidaya ulat sutera.
c.Pelatihan agroforestry.
d.Pelatihan pembuatan pupuk organik.  
e.Pelatihan pembuatan budidaya tanaman pakan ternak.
f.Pelatihan gaharu.

2.Pelatihan manajemen, yakni pelatihan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang pengelolaan organisasi, administrasi, pemasaran/tata niaga produk atau peningkatan kesadaran atas norma tertentu.
Contoh-contoh pelatihan yang termasuk kategori pelatihan ini antara lain adalah :
a.Pelatihan kepemimpinan dalam organisasi.
b.Pelatihan manajemen pemasaran produk usaha tani.
c.Pelatihan PRA.
d.Pelatihan penyuluhan dari masyarakat kepada masyarakat.
e.Pelatihan gender.

Analisis kebutuhan
Kegiatan identifikasi pelatihan diperlukan untuk menyiapkan  rencana/program  pelatihan. Hasil identifikasi kebutuhan pelatihan diperlukan sebagai dasar untuk merencanakan
anggaran untuk pelatihan.

Pelatihan yang baik adalah pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak ada manfaatnya jika pelatihan yang dilaksanakan tidak atau kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itu, sebagai langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan pelatihan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yakni :

1.Menggali informasi langsung dari masyarakat sasaran melalui diskusi kelompok yang terfokus. Dalam hal ini perlu diadakan suatu pertemuan/diskusi khusus antara kelompok masyarakat sasaran dengan fasilitator/penyuluh. Dalam diskusi ini ditanyakan, apa masalah yang dihadapi oleh kelompok masyarakat tersebut, pengetahuan atau keterampilan apa yang dibutuhkan oleh mereka dan apakah perlu ada pelatihan bagi mereka. Perlunya pelatihan biasanya terkait dengan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok dalam melaksanakan kegiatannya. Usul perlunya pelatihan datang dari kelompok masyarakat itu sendiri, demikian pula jenis pelatihannya.

2.Menggali informasi melaui kegiatan Pengkajian Desa Secara Partisipatif/Participatory Rural Appraisal (PRA). Melalui pelaksanaan PRA yang dilanjutkan dengan pembuatan rencana-rencana peningkatan kegiatan di tingkat kelompok dapat diperoleh informasi kebutuhan pelatihan yang berasal dari masyarakat sendiri.

3.Menggali informasi melalui wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat/anggota kelompok tani/masyarakat, disertai dengan pengamatan langsung terhadap kondisi masyarakat/kelompok tersebut.

4.Penelitian konvensional yang dilakukan oleh ahli. Melalui penelitian terhadap masyarakat yang bersangkutan yang mencakup tingkat pengetahuan dan tingkat keterampilan masyarakat  dalam melakukan usahanya yang berkaitan
dengan pertanian dapat diperoleh informasi mengenai kebutuhan pelatihan. Informasi dari hasil penelitian ini masih perlu dikonsultasikan lagi dengan pemuka/kelompok masyarakat tersebut untuk memperoleh kepastian pelatihan yang diperlukan.



rancang bangun kegiatan pelatihan
Desain atau lebih dikenal dengan rancangbangun adalah proses perencanaan yang menggambarkan urutan kegiatan (sistematika) mengenai suatu program. Rancangbangun program diklat adalah proses perencanaan urutan kegiatan komponen pelatihan yang merupakan suatu kesatuan yang bulat dari program tersebut.

Ada 3 (tiga) unsur penting dalam upaya meningkatkan kegiatan diklat bagi setiap individu, yaitu: maksud (apa yang harus dicapai), metode (bagaimana mencapai tujuan) dan format (dalam keadaan bagaimana penentuan rancangbangun yang akan dicapai).

Setelah kita menetapkan tiga unsur penting dalam rancangbangun suatu program latihan, langkah selanjutnya adalah:
1.menetapkan alokasi waktu, berapa lama waktu yang
   dibutuhkan untuk menerapkan rancangbangun tersebut;
2.apa yang Anda lakukan agar peserta terlibat dan
   berpartisipasi;
3.pokok atau kunci apa, instruksi apa, ide apa yang disajikan
   dan apa yang Anda inginkan dari peserta;
4.materi atau bahan apa yang Anda butuhkan atau apa
   kebutuhan peserta untuk mengaplikasikan rancangbangun;
5.pengaturan, bagaimana Anda mengetahui lingkungan fisik
   agar rancangbangun dapat berhasil;
6.akhir, penilaian apa yang Anda buat dan alat/diskusi apa
   yang diinginkan peserta sebelum melanjutkan ke kegiatan
   berikutnya.

Tujuan rancangbangun suatu latihan pada dasarnya adalah sebagai berikut:
1.Mengetahui secara sistematis tahapan kegiatan latihan yang
   akan dilaksanakan.
2.Mengetahui aspek-aspek mana yang akan menjadi fokus
   utamanya.
3.Mengetahui model yang digunakan dalam melaksanakan
   latihan.
4.Menyiapkan bahan-bahan dan metode yang digunakan.

Manfaat rancangbangun ada 2 (dua), yaitu sebagai berikut:
1.Merupakan pedoman atau acuan dalam pelaksanaan latihan.
2.Menyiapkan bahan dan metode yang akan digunakan dalam
   proses latihan.

Rumusan tujuan kegiatan pelatihan
Menurut Subagio, tujuan pelatihan dirumuskan dengan tujuan kegiatan pembelajaran atau disingkat TKP. Seseorang yang mengikuti latihan tertentu pada dasarnya adalah mengikuti suatu serentetan proses belajar agar dapat meningkatkan kemampuannya di berbagai bidang. Agar latihan dapat dirancang secara baik, maka pertama-tama perlu ditentukan apa tujuan latihan yang hendak direncanakan. Dengan tujuan yang jelas dan terarah, maka akan ditentukan secara tepat pula proses belajar yang akan diselenggarakan, alat dan bahan yang hendak dipergunakan, waktu, pelatih, dan sebagainya.
Tujuan belajar adalah adanya perubahan penampilan atau tingkah laku dari peserta latihan sebagai hasil dari proses belajar yang menggunakan materi latihan atau pokok bahasan tertentu, di mana materi latihan tersebut merupakan sumber rumusan tujuan belajar.
Dalam rangka penyusunan rencana pelatihan, rumusan tujuan belajar sangat diperlukan karena:
1.memudahkan orang untuk mengerti maksud dan hasil terbaik
   yang akan dicapai selama proses belajar;
2.merupakan tolok ukur bagi pelatih dalam menetapkan
   aktivitas belajar;
3.merupakan upaya bagi para pelatih dan penyelenggara
   latihan untuk mengamati perkembangan sikap peserta
   latihan;
4.merupakan kerangka dasar penilaian hasil belajar; dan
5.merupakan pernyataan spesifik dari perubahan
   pengetahuan, keterampilan, sikap (PKS) yang akan dialami  
   oleh peserta setelah proses belajar berlangsung.

Peningkatan kemampuan peserta setelah mengikuti latihan pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kemampuan pengetahuan berkaitan dengan kemampuan peserta dalam menggunakan daya pikir dan penalaran tentang materi yang dibahas. Keterampilan adalah kemampuan peserta dalam melakukan pekerjaan yang sifatnya fisik/teknis terhadap materi bahasan, sedangkan sikap adalah kecenderungan bagi peserta berkaitan dengan topik/materi yang dibahas.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang dirumuskan tergantung kepada topik atau pokok bahasan yang akan disampaikan. Mungkin saja dalam satu pertemuan, topik itu bersifat pengetahuan (teori) sehingga rumusan TIK-nya bersifat pengetahuan. Boleh jadi pokok bahasan di samping teori juga ada praktek sehingga TIK-nya bersifat pengetahuan dan keterampilan. Mungkin saja satu pokok bahasan ada unsur pengetahuan, keterampilan dan sikap dan perumusan TIK-nya pun mencakup tiga sifat itu.
TIK ketiga kawasan itu perlu memperhitungkan jenjang mana yang dipilih. Jenjang kemampuan TIK berbeda-beda, sehingga perlu diperhitungkan jenjang mana yang dipilih.

Kegiatan belajar dalam pelatihan
Pada dasarnya kegiatan belajar adalah kegiatan yang menyangkut 2 (dua) proses yang saling kait-mengait dan berkesinambungan, yaitu proses belajar dan proses mengajar. Dalam suatu latihan, proses belajar adalah proses di mana peserta mempelajari sesuatu dan proses mengajar adalah proses di mana pelatih mengajarkan sesuatu. Kadang-kadang terjadi di mana dalam suatu kegiatan belajar kedua proses itu tidak saling bertemu. Sedangkan peserta dapat belajar tanpa pelatih yang mengajar, atau pelatih mengajar tanpa peserta belajar sesuatu. Mempertahankan konsep belajar tanpa guru/pelatih adalah mungkin tetapi mempertahankan konsep guru/pelatih mengajar tanpa peserta mempelajari sesuatu adalah tidak mungkin (Anonimous, 1995).

Untuk dapat merencanakan kegiatan belajar secara baik, pertama-tama perlu kita ketahui 5 (lima) prinsip pokok dalam proses belajar dan mengajar yaitu: Tujuan belajar yang dihayati, urutan yang bertahap, perbedaan individual yang dihormati, kesempatan berlatih yang memadai dan hasil dapat dikeltahui dengan segera.

Agar peserta latihan dapat lebih memahami dan menghayati tujuan belajar, beberapa usaha dapat dilakukan seperti diuraikan di bawah ini:
1.Pelatih hendaknya selalu berusaha memperlihatkan segi
   positif dari bahan pelajaran yang disajikan, misalnya
   memberikan penjelasan detail tentang keuntungan
   memanfaatkan teknologi yang ada.
2.Pelatih hendaknya berusaha menunjukkan bahwa yang
   sedang dipelajari benar-benar relevan dengan TIK.
3.Pelatih hendaknya dapat menunjukkan bahwa bahan
   pelajaran ada hubungannya dengan kepentingan pribadi dan
   lingkungan sehari-hari.
4.Pelatih hendaknya dapat menunjukkan bahwa sesungguhnya
  peserta latihan akan mampu mempelajari bahan yang
  diinginkan. Dengan perkataan lain, pelatih berusaha
  membangkitkan rasa kaya data dan semangat peserta latihan.

Usaha-usaha tersebut di atas, hendaknya dilakukan oleh pelatih sebelum pelajaran dimulai dan apabila perlu diulang-ulang selama pelajaran berlangsung.

Metode latihan
Pemilihan metode yang tepat dalam suatu latihan pada dasarnya merupakan upaya dalam mewujudkan proses belajar dan mengajar yang efektif. Mengajar yang efektif adalah mengajar yang membawa peserta belajar dengan efektif, untuk itu pelatih harus dapat memilih metode yang tepat agar dapat melakukan proses belajar-mengajar yang efektif. Metode latihan harus dapat memberikan jiwa yang menghidupi bagi semua kegiatan selama latihan. Pada latihan yang sifatnya partisipatif, melibatkan peserta dalam proses belajar-mengajar sebanyak-banyaknya, metode latihan yang sifatnya partisipatif sangat penting artinya. Dalam hal ini peserta adalah sebagai subjek belajar.

Pelatihan masyarakat merupakan pendidikan non formal, dengan demikian sifatnya berbeda dengan pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah-sekolah.

Dalam pelatihan non formal bagi orang dewasa, ada karakteristik peserta pelatihan/orang dewasa yang harus diperhatikan yakni :
- Orang dewasa mempunyai pengalaman dan pengalaman
  masing-masing orang berbeda satu sama lain.  
- Lebih suka menerima saran-saran daripada digurui.
- Biasanya menilai dirinya lebih rendah daripada kemampuan
  sebenarnya yang ada pada dirinya.
- Biasanya lebih menyenangi hal-hal yang bersifat praktis.
- Biasanya membutuhkan waktu belajar yang relatif lama,
  membutuhkan suasana akrab dan menjalin hubungan yang
  erat.
- Lebih suka dihargai daripada disalahkan.
- Hanya mau belajar dengan baik jika mereka menganggapnya
  perlu bagi mereka.
- Lebih memperhatikan hal-hal yang menarik bagi dia dan
  menjadi kebutuhannya.
- Menyukai cara belajar yang melibatkan peran mereka.

Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat dipilih dalam pelatihan ini yakni:
1. Ceramah yang disertai dengan alat peraga.
Metode ini adalah metode yang hanya efektif jika waktu yang tersedia sempit. Dalam ceramah, penyampaian informasi lebih cenderung bersifat searah. Adanya alat peraga atau alat bantu sangat membantu dalam memberikan kejelasan bahan atau materi pembelajaran yang disampaikan dengan cara ini.

2. Diskusi
Metode ini lebih partisipatif daripada ceramah. Dalam diskusi, para peserta pelatihan diajak berfikir bersama dan mengungkapkan pikirannya sehingga timbul pengertian pada diri sendiri, pada kawan diskusi dan pada masalah yang dihadapi.

3. Pemeranan
Pemeranan adalah suatu usaha untuk membantu para peserta pelatihan mengalihkan suatu masalah belajar yang tertulis ke dalam praktek atau dramatisasi dari persoalan dengan melihat kenyataan langsung. Biasanya lokasi kegiatan pembelajaran adalah lahan petani sendiri dan prosesnya melaui penemuan/praktek lapangan.

4. Kontinum Proses Belajar
Kontinum proses belajar adalah suatu proses penataan pengalaman untuk mencapai perluasan pengalaman berdasarkan pengalaman sendiri maupun pengalaman orang/pihak lain. Contoh : studi banding dan magang.

5. Pengalaman Terstruktur
Latihan-latihan dan permainan yang dirancang secara cermat untuk menciptakan suatu pengalaman tertentu bagi peserta dilakukan dalam situasi belajar. Metode ini merupakan ciri khas metode belajar yang manfaatnya besar sekali dalam pendidikan orang dewasa, dengan tujuan meningkatkan keterampilan, mengubah perilaku dan kerjasama dalam organisasi. Contohnya adalah belajar melalui petak pengalaman/demonstration plot (demplot), studi banding.

Langkah2 penyelenggaraan latihan
Setelah segala sesuatunya tentang pendidikan-latihan (Diklat) selesai direncanakan, tahap berikutnya adalah pelaksanaan latihan. Dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan ini dapat dibagi menjadi tiga langkah, yaitu langkah persiapan, langkah pelaksanaan pelatihan dan langkah pelaporan. Dari sumber yang lain, menjelaskan pada langkah ketiga diringkas dengan tahap pasca latihan di mana fokusnya adalah pada tindak lanjut latihan oleh peserta.

Langkah persiapan mencakup dua hal, yaitu persiapan administratif dan persiapan edukatif. Persiapan yang sifatnya administratif adalah menyangkut kegiatan surat-menyurat, persiapan, keuangan dan prosedur pelaksanaan latihan itu sendiri.

Sedangkan persiapan yang sifatnya edukatif adalah segala persiapan latihan yang berhubungan langsung dengan proses belajar-mengajar yang akan diselenggarakan. Kedua persiapan ini perlu dilakukan secara cermat, terutama oleh panitia yang menyangkut administrasi dan oleh pelatih yang menyangkut proses pembelajaran.

Persiapan administrasi pelatihan menyangkut berbagai hal, peserta, pelatih (widyaiswara), buku pedoman/petunjuk latihan, perlengkapan latihan, formulir pendaftaran, pembiayaan pelaksanaan diklat dan sebagainya. Sedangkan persiapan edukatif latihan mencakup menentukan kebutuhan alat dan bahan pembelajaran, jadwal latihan, biaya edukatif, ruang pertemuan dan lahan praktek, laboratorium dan sebagainya.

Persiapan edukatif perlu dipersiapkan agar proses pembelajaran dapat sesuai dengan tuntutan kurikulum latihan. Persiapan edukatif adalah persiapan yang dilaksanakan oleh panitia penyelenggara melalui petugas yang ditunjuk.
Persiapan edukatif yang dimaksud antara lain:
1.menyusun panduan belajar/latihan, praktek, kuliah,
   pertemuan, seminar, PKL dan sebagainya;.
2.menyusun jadwal pelatihan atau kalender pelatihan yang
   mencakup satu proses dari awal hingga akhir;
3.mempersiapkan pelatihan sesuai jadwal yang dibuat;
4.menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan terutama bahan
   yang tahan lama dan digunakan berulang, seperti benih,
   pupuk, bahan kimia dan sebagainya;
5.menyiapkan alat praktek, alat bantu mengajar (OHP, film, TV)
   dan sebagainya yang dibutuhkan selama latihan;
6.mempersiapkan blanko-blanko dan format-format isian yang
   berkaitan dengan proses pembelajaran seperti daftar hadir,
   dan perizinan;
7.mempersiapkan satuan acara perkuliahan (SAP), elemen
   keterampilan, lembar penugasan, dan sebagainya;
8.mempersiapkan dan mengidentifikasi kebutuhan bacaan yang
   diperlukan;
9.mempersiapkan lembar mengajar (LPM) dan lembar evaluasi
   serta soal-soal untuk tes awal.

Penyelenggaraan latihan
A. PEMBUKAAN
Pada prinsipnya pembukaan pelatihan merupakan serangkaian kegiatan yang terdiri dari acara pembukaan, pengarahan umum, pengarahan kegiatan pelatihan, dan penjelasan panitia pelaksana mengenai tata tertib dan hal-hal lain yang perlu disampaikan, misalnya tentang akomodasi dan fasilitas selama pelatihan.

Pembukaan pelatihan dapat dilaksanakan secara formal dengan suatu acara sambutan/pengarahan dari pejabat instansi, tetapi dapat dilakukan secara informal minimal oleh ketua penyelenggara pelatihan dengan pernyataan singkat dan disertai penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pelatihan.

B. PEMBELAJARAN
1. Proses Pembelajaran
Pada pelatihan yang dilaksanakan dalam suasana belajar di kelas dan berlangsung dalam beberapa hari, kegiatan pembelajaran diawali dengan pengenalan fasilitator/instruktur dan pembacaan biodata fasilitator/instruktur, dilanjutkan dengan pemberian materi ajaran sesuai dengan kurikulum dan silabus. Pada pembelajaran yang kompleks, kegiatan belajar mencakup :
- Teori, dilaksanakan di kelas/ruangan atau di tempat lain yang memungkinkan. Sebelum melaksanakan pembelajaran teori, fasilitator/instruktur menyiapkan materi sesuai dengan mata ajaran dalam bentuk “hand out” atau bahan serahan atau alat
bantu pembelajaran.
- Praktek Lapangan, karyawisata, widyawisata atau bentuk kunjungan lainnya yang
dilaksanakan sesuai dengan kurikulum dan silabus yang ada.

Selama pelatihan perlu dibangun suasana yang memungkinkan para peserta maupun fasilitator bebas mengemukakan pendapat, saling tukar pengalaman. Fasilitator/instruktur diharapkan mampu menghargai setiap pendapat, pikiran,
pengalaman peserta dan hasil karya peserta.

2. Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Pada pelatihan-pelatihan tertentu, setelah sesi pembelajaran dalam pelatihan tersebut selesai, maka kepada peserta diminta agar mereka menuliskan rencana tindak lanjut (RTL). Artinya, setelah peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang didapat dari pelatihan itu, para peserta membuat rencana tertulis mengenai kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya.

3. Administrasi Pembelajaran
Kegiatan ini meliputi segala bentuk pengadministrasian dalam proses pembelajaran yang dimaksudkan untuk kelancaran, dokumentasi dan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan pelatihan.

C. PENUTUPAN PELATIHAN
Penutupan pelatihan mencakup acara pembacaan atau pernyataan secara resmi tentang selesainya pelatihan dan pemulangan peserta pelatihan.


Latihan partisipatif
Latihan partisipatif sekarang ini bukan lagi dipandang sebagai suatu konsep atau suatu gagasan tetapi dalam wujudnya yang nyata telah berubah menjadi suatu ”sistem”, yaitu mekanisme untuk merealisasi suatu gagasan.
Latihan partisipatif sebagai suatu sistem telah memenuhi 3 (tiga) syarat berikut, yaitu:
1.Upaya-upaya itu memiliki tujuan yang jelas.
2.Upaya-upaya itu didukung oleh beberapa komponen sistem.
3.Terdapat mekanisme hubungan antarkomponen sistem
   menuju ke arah pencapaian tujuan.

Ciri-ciri dari sistem pelatihan partisipatif dapat dilihat dari komponen sistem yang membangun pelatihan partisipatif. Komponen-komponen tersebut adalah:
1.Warga belajar
Dalam latihan partisipatif peserta atau warga belajar bertindak sebagai subjek pendidikan, atau pelaku utama dalam proses belajar-mengajar. Warga ini telah memiliki cukup pengalaman serta pengetahuan, sebagai sumber belajar yang amat berharga. Warga belajar harus saling menyumbang dan mengkaji pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, tukar-menukar pengalaman dan sebagainya.

2.Peran Pelatih
Dalam latihan partisipatif peran guru telah berubah sedemikian rupa, sehingga lebih tepat jika disebut fasilitator atau pemandu belajar.
Seorang pelatih/fasilitator atau pemandu bukan orang yang memiliki segalanya, tetapi lebih banyak sebagai orang yang mampu menghargai setiap pendapat, pemikiran, pengalaman, upaya dan hasil karya warga belajar. Pelatih sebagai fasilitator dan pemandu lebih banyak membantu peserta, agar proses pembelajaran akan lebih aktif, serta mengarahkan proses belajar-mengajar lebih hidup, sesuai dengan pemikiran warga belajar sebagai subjek pendidikan.

3.Kurikulum latihan
Fasilitator memerlukan persyaratan tertentu di antaranya adalah memiliki pengetahuan dasar yang cukup, memiliki perhatian khusus serta profesional dalam menjalankan tugasnya.
Materi latihan dirumuskan secara bersama oleh pengelola latihan dan peserta latihan sesuai dengan kebutuhannya. Semua harapan serta kebutuhan belajar dari peserta yang diperhitungkan akan dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk menunaikan tugas sehari-hari, diagendakan untuk dibahas atas dasar prioritas dan tersedianya waktu. Semua bahan belajar yang telah disiapkan terlebih dahulu dikaji dan diuji dengan kebutuhan bersama tersebut.

4.Metode Latihan
Cara yang digunakan dalam proses belajar-mengajar selama latihan, dititikberatkan pada pendekatan kelompok. Maksudnya agar setiap peserta mempunyai kesempatan yang lebih luas dalam bertukar pikiran dan berdiskusi masalah tertentu. Metode yang diterapkan utamanya adalah cara belajar lewat pengalaman (CBLP), di samping metode lainnya seperti peragaan (demonstrasi) latihan, dan sebagainya.
Pelatih perlu terlibat secara langsung dalam setiap proses belajar yang benar, untuk memberikan sumbangan yang berarti bagi pematangan sikap peserta. Namun demikian, dalam penggunaan metode latihan dikembangkan metode yang sejalan dengan CBLP, yaitu yang dikenal dengan siklus belajar dari pengalaman (Experience Learning Cycle/ELC).

5.Evaluasi latihan
Evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui proses kegiatan yang dilaksanakan dan melihat pencapaian hasil belajar. Evaluasi lebih diutamakan pada evaluasi informatif dibanding sumatif, dengan alasan untuk lebih memantapkan materi serta mendeteksi kelemahan seawal mungkin, agar supaya pembenahan dapat segera dilakukan.

6.Alat Peraga dan Peralatan Latihan
Orientasi pelatihan pada umumnya adalah peningkatan keterampilan dan sikap. Untuk tujuan ini di dalam proses belajar-mengajar, dibutuhkan alat bantu dan bahan-bahan yang cukup. Dengan demikian warga belajar dapat menggunakan segenap inderanya dan melakukan latihan-latihan dengan intensif. Alat bantu dan peraga perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta dapat menggunakannya secara tepat.

7.Jadwal Latihan
Dalam penyelenggaraan latihan dikenal 3 (tiga) dimensi waktu, yaitu masa pra latihan formal, masa latihan formal dan masa pasca latihan formal. Ketiganya merupakan satu kesatuan. Penanganan ketiga masa tersebut dilakukan dengan kesungguhan dan intensitas yang sama.
Jadwal latihan yang disusun  harus memperhatikan banyak hal, seperti materi bahasan, ketersediaan waktu, pelatih maupun metode yang digunakan dalam proses pembelajaran serta kurikulum latihan.
Pengorganisasian latihan
Pengorganisasian merupakan inti manajemen, karena itu membahas masalah pengorganisasian latihan pada dasarnya berbincang perihal manajemen latihan. Manajemen di mana pun (termasuk latihan) berkaitan erat dengan upaya mengatur berbagai unsur pendukungnya, yaitu unsur manusia, sarana (dalam arti luas) dan unsur dana. Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah unsur waktu dan unsur lingkungan.

Unsur manusiawi dalam latihan mencakup pelatih atau fasilitator, peserta latihan, penyelenggara latihan, personal atau lembaga pengirim peserta latihan dan sebagainya. Unsur sarana termasuk di dalamnya segala macam peralatan atau perlengkapan dari yang paling konvensional sampai yang paling canggih yang berkaitan erat dengan kebutuhan latihan secara langsung ataupun tidak. Unsur dana mencakup segala macam pembiayaan latihan dan unsur waktu mencakup kapan dan seberapa lama keseluruhan maupun setiap kegiatan akan berlangsung. Adapun unsur lingkungan kecuali mencakup lingkungan fisik, juga mencakup lingkungan sosial serta suasana yang perlu diciptakan agar latihan terselenggara dengan baik.

Agar suatu latihan dapat diselenggarakan sebagaimana mestinya, maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian latihan berikut ini.
1.Sejalan dengan penahapan penyelenggaraan latihan,
   pengorganisasian latihan memikul tugas tertentu di setiap
   tahap latihan. Agar peserta memperoleh manfaat yang
   maksimum, maka semua pihak yang terlibat perlu menunaikan
   tugas masing-masing dengan cara yang baik dan serius pada
   setiap tahap penyelenggaraan latihan.
2.Pengorganisasian terhadap semua unsur pendukung
   manajemen diarahkan untuk mencapai tujuan latihan.
3.Unsur manusiawi dalam penyelenggaraan latihan yang terdiri
   dari pelatih, peserta, penyelenggara latihan dan sebagainya,
   perlu berperan secara tepat sebagaimana telah ditetapkan
   pada setiap tahap latihan. Hal yang perlu ditekankan adalah
   peserta latihan merupakan subjek pendidikan yang
   selayaknya mendapatkan perhatian sentral. Dalam latihan
   segala upaya, segala sarana, segala kemudahan dan
   suasana boleh dilakukan, disediakan, dan diciptakan agar
   peserta latihan dapat mengaktualisasikan pengalaman dan
   kemampuannya secara optimum.
4.Evaluasi terhadap pengorganisasian latihan dapat dilakukan
   pada setiap akhir tahapan. Hasil evaluasi dapat menjadi
   masukan bagi pelaksanaan tahap berikutnya.
5.Menempatkan peserta latihan sebagai subjek latihan pada
   dasarnya juga berarti proses pelimpahan tanggung jawab
   dalam rangka pengorganisasian latihan.

Pada dasarnya setiap tahapan latihan senantiasa perlu diidentifikasi jenis kegiatan mana yang mungkin dilimpahkan kepada peserta latihan. Namun pada akhirnya sebagian besar tanggung jawab penyelenggaraan latihan terletak di tangan peserta latihan.

Masalah dan alternative pemecahan
Perencanaan kegiatan tersebut perlu dilengkapi dengan identifikasi segala sesuatu yang mungkin dapat menghambat atau boleh jadi menggagalkan tujuan. Segala sesuatu yang dapat menghambat atau menghalangi tercapainya suatu tujuan kegiatan itu disebut masalah.

Masalah adalah segala sesuatu yang dapat menghambat atau menghalangi tercapainya suatu tujuan kegiatan yang direncanakan. Pada dasarnya masalah suatu kegiatan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu masalah teknis, masalah ekonomi, dan sosial.

1.Masalah Teknis, merupakan suatu hambatan kegiatan yang
   sifatnya berkenaan dengan penerapan teknologi tertentu.  
   Dalam kasus tikus di atas, contohnya petani tidak dapat
   menangani enanganan hama ini.
2.Masalah Ekonomi, merupakan suatu hambatan kegiatan yang
   berkaitan dengan keterlibatan dana/uang. Dalam contoh tikus
   di atas, petani tidak dapat menyediakan pestisida khusus
   untuk memberantas tikus yang merajalela karena harganya
   mahal, sehingga tidak mampu membeli.
3.Masalah Sosial, adalah segala sesuatu hambatan disebabkan
   faktor sosial masyarakat setempat. Contoh kasus di atas
   misalnya masyarakat/petani setempat tidak mau
   memberantas tikus karena berkeyakinan hama tikus akan
   menyerang lebih hebat.

Masalah pra latihan, adalah masalah yang muncul pada proses persiapan latihan. Masalah yang muncul dapat menyangkut peserta, pelatih dan fasilitas yang disediakan. Masalah yang berkaitan dengan peserta terutama jika dilihat dari jumlah peserta, apakah terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Peserta yang terlalu banyak melebihi batas yang ditentukan, akan mengurangi efektivitas belajar serta kesulitan dengan sumber daya yang tersedia. Usaha menanganinya adalah:
1.Latihan dibagi menjadi beberapa tahap, tiap tahap jumlah
   peserta paling banyak antara 20-25 orang.
2.Memilih peserta yang potensial untuk dilatih menjadi pelatih.
   Mereka diharapkan dapat melatih kelompok-kelompok di
   daerah masing-masing.

Jika jumlah peserta terlalu sedikit, kurang dari yang ditentukan maka untuk menghindari adalah:
1.Memberikan penjelasan yang mantap kepada pihak-pihak
   yang bersangkutan tentang tujuan latihan, misalnya kepada
   Pamong, kelompok-kelompok masyarakat, PKK, kelompok
   pendengar, kontak tani dan lain-lainnya.
2.Meninjau kembali apakah materi latihan sudah sesuai dengan
   kebutuhan masyarakat.



Evaluasi pelatihan
Perencanaan kegiatan tersebut perlu dilengkapi dengan identifikasi segala sesuatu yang mungkin dapat menghambat atau boleh jadi menggagalkan tujuan. Segala sesuatu yang dapat menghambat atau menghalangi tercapainya suatu tujuan kegiatan itu disebut masalah.

Masalah adalah segala sesuatu yang dapat menghambat atau menghalangi tercapainya suatu tujuan kegiatan yang direncanakan. Pada dasarnya masalah suatu kegiatan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu masalah teknis, masalah ekonomi, dan sosial.

1.Masalah Teknis, merupakan suatu hambatan kegiatan yang
   sifatnya berkenaan dengan penerapan teknologi tertentu.  
   Dalam kasus tikus di atas, contohnya petani tidak dapat
   menangani enanganan hama ini.
2.Masalah Ekonomi, merupakan suatu hambatan kegiatan yang
   berkaitan dengan keterlibatan dana/uang. Dalam contoh tikus
   di atas, petani tidak dapat menyediakan pestisida khusus
   untuk memberantas tikus yang merajalela karena harganya
   mahal, sehingga tidak mampu membeli.
3.Masalah Sosial, adalah segala sesuatu hambatan disebabkan
   faktor sosial masyarakat setempat. Contoh kasus di atas
   misalnya masyarakat/petani setempat tidak mau
   memberantas tikus karena berkeyakinan hama tikus akan
   menyerang lebih hebat.

Masalah pra latihan, adalah masalah yang muncul pada proses persiapan latihan. Masalah yang muncul dapat menyangkut peserta, pelatih dan fasilitas yang disediakan. Masalah yang berkaitan dengan peserta terutama jika dilihat dari jumlah peserta, apakah terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Peserta yang terlalu banyak melebihi batas yang ditentukan, akan mengurangi efektivitas belajar serta kesulitan dengan sumber daya yang tersedia. Usaha menanganinya adalah:
1.Latihan dibagi menjadi beberapa tahap, tiap tahap jumlah
   peserta paling banyak antara 20-25 orang.
2.Memilih peserta yang potensial untuk dilatih menjadi pelatih.
   Mereka diharapkan dapat melatih kelompok-kelompok di
   daerah masing-masing.

Jika jumlah peserta terlalu sedikit, kurang dari yang ditentukan maka untuk menghindari adalah:
1.Memberikan penjelasan yang mantap kepada pihak-pihak
   yang bersangkutan tentang tujuan latihan, misalnya kepada
   Pamong, kelompok-kelompok masyarakat, PKK, kelompok
   pendengar, kontak tani dan lain-lainnya.
2.Meninjau kembali apakah materi latihan sudah sesuai dengan
   kebutuhan masyarakat.



Latihan

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar di atas caranya
1. Masukkan Komentar anda di kolom komentar
2. Pada Kotak "Beri Komentar sebagai" pilih akun yang ada pada pilihan.
3. klik publikasikan.
5. isi code capta
6. tekan enter atau publikasikan.

Anda di perbolehkan berkomentar dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1. Komentar jangan mengandung SARA dan PORNO
2. Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan.
3. Tidak Boleh SPAM
4. Jangan meninggalkan Link aktif pada komentar. Komentar dengan Link Aktif akan dihapus.
5. Berkomentarlah sesuai dengan topik artikel

 
Support : Amalkan Ilmu Berbagi Untuk Semua | Blog SEO Arul
Copyright © 2013. Amriani Hamzah Dara Daeng Makassar - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger